Tenavora Unified Platform
Lompat ke konten
Tim Tenavora 3 menit baca

Reorder Point & Stok Pengaman: Biar Nggak Kehabisan atau Numpuk

Rumus sederhana menghitung titik pesan ulang dan safety stock untuk UMKM — lengkap dengan contoh angka nyata, tanpa perlu jago matematika.

Dua penyakit stok yang paling sering bikin boncos itu sebenarnya bertolak belakang. Yang pertama: kehabisan barang laris, pelanggan datang lalu pulang dengan tangan kosong — dan besoknya belanja di tempat lain. Yang kedua: gudang penuh barang yang “jaga-jaga siapa tahu laku”, uangnya nganggur berbulan-bulan di rak.

Obatnya satu resep: tahu kapan harus pesan ulang, dan berapa cadangan yang masuk akal. Namanya reorder point dan safety stock. Kedengarannya akademis, hitungannya ternyata cuma perkalian dan penjumlahan.

Rumus dasarnya cuma satu baris

Reorder point = pemakaian harian rata-rata x lead time + stok pengaman.

Lead time itu jarak antara Anda pesan dan barang benar-benar sampai di rak. Bukan janji sales-nya — angka nyatanya. Kalau supplier bilang “tiga hari” tapi kenyataannya sering lima, pakai lima.

Contoh konkret. Warung kopi di Surabaya menghabiskan rata-rata 2 kg biji kopi per hari. Roaster langganan butuh 4 hari dari order sampai kiriman datang. Tanpa cadangan sama sekali, titik pesan ulangnya 2 x 4 = 8 kg. Artinya: begitu stok biji menyentuh 8 kg, saat itu juga order harus keluar. Bukan besok, bukan “nanti pas ingat”.

Masalahnya, dunia nyata nggak serapi rata-rata. Ada minggu ketika ada acara kantor pesan 30 gelas sekaligus. Ada kalanya roaster telat karena pengiriman antar kota macet. Di situlah stok pengaman masuk.

Menghitung stok pengaman tanpa rumus statistik

Versi buku teks pakai standar deviasi dan service level. Untuk UMKM, ada jalan pintas yang cukup akurat: lihat skenario terburuk yang masuk akal.

Stok pengaman = (pemakaian harian maksimum x lead time maksimum) dikurangi (pemakaian rata-rata x lead time rata-rata).

Kembali ke warung kopi tadi. Hari tersibuk pernah menghabiskan 3 kg, dan keterlambatan terparah roaster pernah 6 hari. Maka stok pengamannya (3 x 6) dikurangi (2 x 4) = 18 - 8 = 10 kg. Reorder point totalnya jadi 8 + 10 = 18 kg.

Sekilas kelihatan banyak. Tapi perhatikan: 10 kg itu hanya untuk kopi — item paling vital di warung kopi. Untuk sirup rasa leci yang sebulan cuma laku beberapa botol, stok pengaman satu botol pun sudah kebanyakan. Cadangan besar hanya untuk barang yang kalau kosong, bisnisnya ikut berhenti. Cara memilah mana yang vital dan mana yang tidak, pakai analisis ABC.

Angka yang harus Anda punya dulu

Rumus di atas cuma jalan kalau tiga data ini ada:

  • Pemakaian atau penjualan harian per item — rata-rata dan puncaknya.
  • Lead time nyata per supplier, dari tanggal PO sampai tanggal barang diterima.
  • Stok berjalan yang bisa dipercaya.

Yang ketiga ini sering jadi ganjalan. Kalau catatan stok Anda sendiri masih sering meleset, reorder point secanggih apa pun akan memicu order di waktu yang salah. Bereskan dulu akurasinya — mulai dari menekan selisih stok — baru otomatisasi pemesanannya.

Kalau ketiganya sudah ada di sistem kasir atau inventori, sisanya tinggal disetel. Di Tenavora misalnya, tiap item bisa diberi ambang reorder per lokasi, dan sistem menandai item yang sudah menyentuh ambang — jadi keputusan “pesan sekarang” nggak lagi bergantung pada siapa yang kebetulan lewat gudang.

Musiman itu nyata, jangan pakai satu angka setahun

Rata-rata penjualan sarung di bulan Ramadan dan di bulan biasa itu dua dunia berbeda. Begitu juga es batu saat kemarau, jas hujan saat Desember, atau tepung menjelang musim hajatan. Reorder point bukan angka keramat yang disetel sekali seumur hidup — tinjau ulang setiap kali musim berganti, atau minimal tiap tiga bulan.

Cara praktisnya: pakai rata-rata penjualan 30 hari terakhir, bukan rata-rata setahun. Angka 30 hari otomatis ikut naik menjelang musim ramai dan turun setelahnya. Sekalian catat event yang bikin lonjakan (promo besar, tanggal kembar, libur panjang) supaya tahun depan tidak kaget lagi.

Tanda-tanda setelannya perlu direvisi

Reorder point yang kegedean ketahuan dari barang yang datang terus padahal stok lama belum habis — modal mengendap, kedaluwarsa mendekat. Yang kekecilan ketahuan dari seringnya “kosong sebentar” sebelum kiriman datang, atau dari order dadakan lewat ojek online yang ongkosnya mahal.

Dua-duanya sinyal untuk buka lagi hitungannya: apakah pemakaian hariannya sudah berubah, atau lead time supplier yang bergeser. Kadang jawabannya bukan angka, tapi supplier — kalau satu pemasok telatnya makin sering dan makin parah, menambah stok pengaman terus-menerus itu menambal kapal bocor. Cari pemasok kedua sebagai cadangan, dan biarkan lead time yang lebih pendek menurunkan kebutuhan cadangan Anda secara alami.

Mulailah dari lima barang terlaris Anda malam ini. Hitung pemakaian hariannya, cek lead time supplier dari nota-nota lama, pasang angkanya. Lima item itu biasanya sudah mewakili sebagian besar omzet — dan tidur Anda akan jauh lebih nyenyak begitu tahu barang paling penting nggak akan kosong diam-diam.