Tenavora Unified Platform
Lompat ke konten
Tim Tenavora 3 menit baca

Analisis ABC: Fokus ke 20% Barang yang Menghidupi Toko Anda

Nggak semua barang layak diurus sama seriusnya. Cara memilah stok jadi kelas A, B, C dengan data penjualan sendiri — dan apa bedanya perlakuan tiap kelas.

Coba jawab cepat: dari semua barang di toko Anda, berapa item yang menyumbang separuh omzet? Kebanyakan pemilik toko menebak “ya rata-rata lah, semuanya nyumbang”. Lalu datanya dibuka, dan jawabannya hampir selalu bikin kaget: segelintir. Sering kali di bawah 20% item menyumbang 70–80% omzet, sementara ekor panjang berisi ratusan barang cuma jadi penggembira rak.

Prinsip lawas ini dikenal sebagai aturan Pareto, dan penerapannya di stok bernama analisis ABC. Idenya sederhana: barang tidak diciptakan setara, jadi perhatian Anda juga jangan dibagi rata.

Membagi barang jadi tiga kasta

Caranya begini. Tarik data penjualan 3–6 bulan terakhir per item, kalikan jumlah terjual dengan harga (atau lebih tajam lagi: dengan laba kotornya). Urutkan dari yang terbesar. Lalu jumlahkan dari atas ke bawah:

  • Kelas A: item teratas yang bersama-sama menyumbang sekitar 70–80% nilai. Biasanya cuma 10–20% dari jumlah item.
  • Kelas B: lapisan berikutnya, menyumbang sekitar 15–25%. Biasanya 20–30% item.
  • Kelas C: sisanya — separuh lebih jumlah item, tapi nilainya cuma 5–10%.

Angka persisnya tidak perlu diperdebatkan; batas 80/15/5 atau 70/20/10 sama-sama sah. Yang penting hasil akhirnya: daftar pendek barang kelas A yang sekarang punya nama dan wajah, bukan sekadar “barang laris” menurut perasaan.

Toko bangunan di Makassar yang pernah kami lihat datanya punya 1.400 SKU. Kelas A-nya cuma 130 item — semen, besi, cat putih, pipa ukuran umum. Sisanya 1.270 item, termasuk 300-an yang setahun tidak laku sebiji pun. Pemiliknya kaget bukan karena tidak tahu semen itu laris, tapi karena baru sadar berapa banyak modal yang selama ini nyangkut di barang-barang yang cuma jadi pajangan — sementara semen, si penyumbang terbesar, justru beberapa kali sempat kosong.

Perlakuan beda untuk kasta beda

Analisis ABC baru berguna kalau kelasnya mengubah cara kerja. Kira-kira begini pembagian energinya.

Kelas A diurus seperti bayi. Dihitung paling sering di siklus stok opname — mingguan kalau perlu. Reorder point dan stok pengaman dihitung serius per item, karena kehabisan barang kelas A itu bencana: dia alasan pelanggan datang. Harga belinya dinegosiasikan rajin, karena diskon 2% di barang kelas A lebih berarti daripada diskon 20% di barang kelas C. Selisihnya diinvestigasi sampai ketemu.

Kelas B diurus secukupnya. Dihitung bulanan, reorder point boleh pakai rumus kasar, dipantau kalau-kalau ada yang sedang naik daun menuju kelas A — atau melorot ke C. Kelas B ini zona transisi: produk musiman sering bolak-balik lewat sini, jadi jangan buru-buru mengambil keputusan permanen dari satu periode data saja.

Kelas C justru yang butuh keputusan paling tegas: berhenti mengurusnya satu-satu. Hitung dua-tiga bulan sekali. Stoknya ditipiskan — banyak barang C cukup disediakan minimal atau malah dipesankan hanya saat ada yang minta. Dan di sinilah pertanyaan paling menghemat uang diajukan: barang C yang setahun tidak bergerak, kenapa masih dibeli ulang? Uang yang mengendap di barang mati itu uang yang tidak bisa dipakai menambah stok kelas A.

Jangan cuma lihat omzet — lirik juga marginnya

Satu jebakan yang perlu diwaspadai: mengurutkan hanya berdasarkan omzet bisa menipu. Ada barang yang omzetnya besar tapi marginnya setipis kertas, ada yang jarang laku tapi sekali laku untungnya tebal. Kalau datanya memungkinkan, buat dua versi: ABC berdasarkan omzet dan ABC berdasarkan laba kotor. Barang yang masuk kelas A di keduanya adalah nyawa toko Anda. Barang yang omzetnya A tapi labanya C — nah, itu bahan renungan waktu negosiasi harga ke supplier.

Ada juga pengecualian yang tidak boleh dipangkas walau nilainya C: barang pelengkap yang membuat barang A laku (lem untuk pipa, baterai untuk mainan), dan barang yang membuat pelanggan datang meski murah. Analisis ABC itu alat bantu berpikir, bukan hakim.

Ini pekerjaan satu jam, bukan proyek

Kalau penjualan Anda sudah tercatat di sistem kasir, seluruh analisis ini cuma soal menarik laporan penjualan per item lalu mengurutkannya — di Tenavora, laporan penjualan per produk tinggal diurutkan berdasarkan nilai atau margin, dan pembagian kelasnya bisa Anda tarik garis sendiri dalam hitungan menit. Kalau masih di buku tulis, ini alasan bagus untuk mulai pindah ke sistem: analisis semacam ini mustahil tanpa data transaksi yang rapi.

Lakukan sekali, lalu ulangi tiap tiga bulan — kelas barang bergeser mengikuti musim dan tren. Sirup dan kurma yang di bulan biasa adem ayem bisa melompat ke kelas A menjelang Ramadan, lalu turun kasta lagi sesudahnya; payung naik daun tiap musim hujan. Analisis yang dibuat setahun lalu dan tidak pernah disentuh lagi sama menyesatkannya dengan tidak punya analisis sama sekali. Dan mulai besok, saat waktu Anda cuma cukup untuk mengecek sebagian stok, Anda tahu persis bagian mana: barang-barang yang benar-benar menghidupi toko.