THR untuk Usaha Kecil: Siapa Berhak, Cara Hitung, Cara Nabungnya
THR bukan kejutan — datangnya bisa dipastikan setahun sebelumnya. Siapa yang berhak, cara menghitung prorata, dan cara menabung THR sejak jauh hari.
Dari semua tagihan yang bisa bikin pemilik usaha kecil pusing, THR itu paling aneh: datangnya paling bisa diprediksi — tanggalnya sudah ketahuan setahun sebelumnya — tapi paling sering bikin kelabakan. Tiap tahun menjelang Lebaran ada saja warung dan toko yang mendadak cari pinjaman demi THR, padahal sebelas bulan sebelumnya sebenarnya ada waktu untuk bersiap.
Mari kita bereskan dua hal: aturannya seperti apa (secara garis besar), dan cara menyiapkan uangnya supaya Maret–April tidak jadi bulan panik.
Siapa yang berhak dapat THR?
Garis besarnya begini: THR keagamaan wajib diberikan ke karyawan yang sudah bekerja minimal satu bulan secara terus-menerus. Bukan cuma karyawan tetap — karyawan kontrak (PKWT) juga berhak. Jadi kalau Anda merekrut kasir baru dua bulan sebelum Lebaran, dia sudah masuk daftar penerima, meskipun jumlahnya prorata (dihitung proporsional).
Karyawan harian lepas juga punya ketentuannya sendiri, dihitung dari rata-rata upahnya. Yang sering jadi pertanyaan: karyawan yang resign sebelum hari raya. Aturannya punya detail soal ini (umumnya terkait karyawan tetap yang berhenti dalam rentang tertentu sebelum hari raya), dan di sinilah pentingnya cek ketentuan terbaru — jangan mengandalkan “kata teman sesama pemilik toko”.
Satu disclaimer yang serius: pasal-pasal THR bisa direvisi, dan tiap tahun biasanya ada surat edaran menteri menjelang hari raya. Artikel ini peta umum; angka dan detail final selalu ambil dari peraturan yang berlaku tahun itu.
Cara menghitungnya
Rumus dasarnya ramah:
- Masa kerja 12 bulan atau lebih: THR = 1 bulan upah.
- Masa kerja 1–11 bulan: THR = masa kerja dibagi 12, dikali 1 bulan upah.
“Satu bulan upah” umumnya berarti gaji pokok plus tunjangan tetap (tunjangan yang dibayar rutin tanpa syarat kehadiran). Uang makan yang dihitung per hari masuk biasanya tidak ikut; tunjangan jabatan yang dibayar flat tiap bulan biasanya ikut.
Contoh: Dedi, pelayan kedai di Surabaya, gaji pokok Rp2.700.000 plus tunjangan tetap Rp300.000, sudah kerja 8 bulan saat Lebaran. THR-nya: 8/12 dikali Rp3.000.000 = Rp2.000.000. Sementara rekannya yang sudah dua tahun bekerja terima utuh Rp3.000.000.
Perhatikan juga: THR mengikuti hari raya keagamaan masing-masing karyawan. Kalau tim Anda campur, jadwal pembayarannya bisa jatuh di bulan yang berbeda — catat sejak awal supaya tidak ada yang terlewat.
Soal waktu: THR wajib dibayar paling lambat 7 hari sebelum hari raya — dan dibayar penuh, bukan dicicil. Telat atau nyicil ada sanksinya. Kalau kondisi kas benar-benar berat, bicarakan dengan karyawan jauh-jauh hari dan pahami prosedur resminya; diam-diam menunda adalah pilihan terburuk.
Bagian yang paling penting: nabungnya
Sekarang matematika yang menyelamatkan: THR itu kira-kira satu bulan gaji per karyawan per tahun. Artinya, cukup sisihkan sekitar 1/12 dari total gaji bulanan — setiap bulan, mulai bulan ini — dan saat Lebaran datang uangnya sudah duduk manis.
Konkretnya: total gaji tim Anda Rp15 juta per bulan? Sisihkan Rp1.250.000 tiap bulan ke rekening terpisah. Beri nama rekeningnya “THR” biar tidak tergoda dipakai buat restock barang pas ada promo supplier. Kalau bisnis Anda musiman — ramai di akhir tahun, sepi di awal — sisihkan lebih besar di bulan ramai, yang penting setahun terkumpul satu bulan gaji.
Dua hal yang suka kelupaan dalam menabung THR: karyawan baru (begitu ada yang masuk, porsi tabungan ikut naik) dan kenaikan gaji (THR dihitung dari upah saat hari raya, bukan upah tahun lalu — jadi kalau Januari ada kenaikan, tabungan THR ikut disesuaikan).
Di pembukuan, perlakukan ini sebagai biaya yang diakru tiap bulan, bukan pengeluaran jumbo sekali setahun. Selain kasnya siap, laporan laba rugi bulanan Anda juga jadi jujur — Maret tidak terlihat “rugi mendadak” cuma karena THR keluar. Kalau pakai sistem yang pembukuannya otomatis, akrual seperti ini tinggal disetel sekali; modul payroll Tenavora juga menghitung THR prorata per karyawan dari data masa kerja, jadi tidak ada lagi ritual buka-buka arsip “si Ani masuknya bulan apa ya?”
Sekalian: THR itu momen, bukan cuma kewajiban
Terakhir, hal yang sering dilupakan di tengah hitung-hitungan: THR adalah satu dari sedikit momen di mana pemilik usaha kecil bisa terlihat sebagai pemberi kerja yang baik dengan cara yang sangat terasa. THR yang dibayar tepat waktu — apalagi lebih awal beberapa hari — beritanya menyebar di antara karyawan dan calon karyawan. Yang telat juga menyebar, lebih cepat malah.
Jadi kalau tahun ini Anda sudah mulai menyisihkan dari sekarang, tahun depan THR bukan lagi tagihan yang menakutkan. Cuma transfer biasa, dari rekening yang memang sudah setahun menunggu dipakai.