Panduan QRIS untuk UMKM: Cara Daftar, Biaya MDR, Settlement
Daftar QRIS dari nol untuk usaha kecil: memilih penyedia, dokumen yang disiapkan, memahami biaya MDR, jadwal settlement, dan rekonsiliasi hariannya.
“Bisa QRIS nggak, Bu?” — kalau pertanyaan itu makin sering terdengar di toko Anda dan jawabannya masih “transfer aja ya”, artikel ini untuk Anda. Makin banyak pembeli, terutama yang muda, keluar rumah tanpa dompet sama sekali. Warung kopi pinggir jalan sampai tukang sayur keliling sekarang pasang QR — dan yang belum pasang, pelan-pelan kehilangan pembeli yang uangnya ada di HP.
Mendaftar QRIS itu tidak sulit dan tidak mahal. Yang sering bikin ragu adalah tidak tahu mulai dari mana, kena potongan berapa, dan kapan uangnya masuk. Tiga-tiganya kita bereskan di sini.
QRIS itu satu standar, banyak pintu masuk
Hal pertama yang perlu dipahami: QRIS adalah standar QR nasional dari Bank Indonesia. Anda cukup punya satu QR, dan pembeli bisa membayar dari aplikasi mana pun — GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, mobile banking BCA, BRImo, Livin, dan lainnya. Tidak perlu daftar satu-satu ke tiap aplikasi.
Yang Anda pilih bukan “QRIS-nya”, melainkan pintu masuknya: PJP alias Penyedia Jasa Pembayaran. Bisa bank (BCA, BRI, Mandiri, BNI, dan lainnya), bisa penyedia non-bank seperti GoPay merchant atau DANA Bisnis, bisa juga payment gateway seperti Midtrans atau Xendit. QR-nya sama-sama QRIS; yang berbeda adalah aplikasi dashboard-nya, kecepatan settlement, dan integrasinya ke sistem kasir.
Pertimbangan singkatnya: kalau usaha Anda kecil dan transaksinya sederhana, mendaftar lewat bank tempat rekening usaha Anda berada biasanya paling praktis karena uang masuk ke rekening yang sama. Kalau Anda pakai aplikasi kasir atau punya toko online, payment gateway lebih menarik karena statusnya bisa masuk otomatis ke sistem — soal ini kami bahas di artikel QRIS dinamis di kasir.
Dokumen yang perlu disiapkan
Untuk usaha perorangan, umumnya cukup: KTP, nomor rekening atas nama sendiri, foto tempat usaha dan produk, plus NPWP kalau ada. Badan usaha (CV/PT) menambah akta, NIB, dan NPWP badan. Prosesnya sekarang hampir semua online lewat aplikasi PJP — unggah dokumen, tunggu verifikasi beberapa hari kerja, lalu Anda menerima NMID (nomor identitas merchant nasional) dan QR yang siap dicetak.
Dua hal yang perlu dicek saat QR datang: nama merchant yang tampil saat pembeli scan harus benar (pembeli batal bayar kalau namanya asing), dan simpan file QR asli baik-baik supaya bisa cetak ulang kalau yang di meja lusuh.
Biaya MDR: potongan yang harus Anda hitung
Setiap transaksi QRIS dikenai MDR (merchant discount rate) — potongan yang dibagi ke pihak-pihak yang memproses pembayaran. Per aturan Bank Indonesia yang berlaku saat artikel ini ditulis: untuk merchant usaha mikro, transaksi sampai Rp100.000 kena MDR 0 persen dan di atas itu 0,3 persen; merchant reguler kena 0,7 persen. Tarif ini pernah berubah dan bisa berubah lagi, jadi konfirmasi angka terbarunya ke PJP Anda saat mendaftar.
Artinya begini: pembeli bayar Rp150.000, yang mendarat di rekening Anda Rp149.550 kalau tarifnya 0,3 persen. Kecil, tapi jangan diabaikan — catat MDR sebagai biaya usaha di pembukuan, dan untuk yang margin tipis, masukkan ke perhitungan harga. Satu hal yang tegas dilarang: membebankan MDR ke pembeli sebagai biaya tambahan. Aturannya jelas, dan pembeli yang tahu akan melaporkannya.
Settlement: kapan uangnya benar-benar masuk
Uang QRIS tidak langsung mendarat detik itu juga. Umumnya PJP melakukan settlement H+1 hari kerja — transaksi hari Senin masuk rekening Selasa. Transaksi Jumat sore hingga Minggu biasanya baru masuk Senin. Sebagian PJP menawarkan settlement lebih cepat, bahkan real-time, dengan biaya tambahan.
Ini penting untuk arus kas. Kalau selama ini belanja stok pagi mengandalkan uang tunai laku kemarin, beralih ke QRIS berarti ada jeda satu hari yang harus diantisipasi — apalagi di akhir pekan yang ramai. Bukan masalah besar, asal tidak kaget.
Rekonsiliasi: lima menit tiap malam
Kebiasaan yang membedakan warung yang rapi dan yang selisih terus: tiap tutup toko, bandingkan total QRIS versi catatan penjualan Anda dengan total di dashboard PJP. Dua-duanya harus ketemu. Kalau tidak, carilah biang yang biasa: pembeli scan tapi batal bayar, transaksi dobel karena scan dua kali, atau penjualan QRIS yang keliru dicatat kasir sebagai tunai.
Selisih yang ditemukan malam itu juga gampang diurut. Selisih yang baru ketahuan akhir bulan hampir mustahil. Sistem kasir yang mencatat metode bayar per transaksi membuat ritual ini tinggal membandingkan dua angka — di Tenavora, laporan hariannya sudah memisahkan tunai, QRIS, dan EDC persis untuk keperluan ini.
Mulailah dari yang sederhana: daftar minggu ini lewat bank atau PJP pilihan Anda, tempel QR-nya, dan biasakan rekonsiliasi tiap malam. Sebulan kemudian Anda akan heran sendiri kenapa tidak dari dulu.